Kategori
Tidak Dikategorikan

DUA HARI PERINGATAN BAGI PEMUDA

Dua hari peringatan bagi pemuda

28 Oktober berlalu. Dan sekarang, dua hari pasca peringatan hari pahlawan semua kembali normal. Sampah kemasan air mineral, kardus, kue basi, dan sisa kain dari pertunjukan dibakar. Surat ijin kegiatan dan pemberitahuan menumpuk di laci-laci meja kepala-kepala dan ketua-ketua untuk menunggu giliran menjadi abu, lalu hilang bersama bisingnya kesibukan

Pamflet yang pernah disebar hanya jadi sampah virtual. Berserakan di sana-sini. Dan setahun dari sekarang, tak ada yang nampak lebih baik dapat dilakukan. Peringatan hari sumpah pemuda yang hanya dirayakan oleh Himpunan Mahasiswa Bombana (Kolaka) seperti membenarkannya, sekaligus menyalahkannya.

Semangat pemuda semestinya tercermin dalam
Organisasi yang mengatasnamakan pemuda. Tetapi, pada 28 Oktober itu, suara serak-serak pertunjukan teatrikal, puisi dan orasi hanya didengar dari organisasi yang secara swadaya melaksanakannya dengan khidmat. Bukan sekedar baleho yang dipajang di pinggir jalan raya, yang kita tahu, ia akan bernasib seperti kardus, kemasan air mineral, dan sisa kain pertunjukan seperti di atas.

Berselang 15 hari. Dua hari yang lalu, tak ingin kehilangan suara meskipun serak, Hipmab kolaka kembali merayakan hari pahlawan dengan bertajuk pemuda lagi. Kegiatan yang terlaksana di halaman Kantor Kecamatan Poleang Barat itu, meski tak mendapat anggaran pertahun dari pemerintah seperti organisasi kepemudaan lainnnya, merupakan upaya untuk memperkenalkan semangat kepemudaan yang semestinya dimiliki oleh pemuda di Bombana. Semangat kepemudaan yang diperkenalkan lewat puisi dan orasi kebangsaan ini adalah semangat membangun jiwa nasionalisme lewat karya. Kearifan lokal, adat istiadat, dan tradisi lainnya diperkenalkan kembali lewat dua hari peringatan tersebut.

Perkembangan teknologi yang menggeser interaksi manusia bahkan budaya, menjadi tantangan tersendiri bagi Hipmab Kolaka dalam melaksanakan kegiatan tersebut. Isu-isu nasionalisme dan agenda – agenda kepemudaan yang dikemas dalam puisi dan drama masih asing bagi masyarakat. Puisi teatrikal berjudul “Elegi 10 November” yang disajikan dengan satire tak menimbulkan respon apa-apa saat ditampilkan. Dan memang diakui, seni pertunjukan semacam itu adalah hal yang baru di daerah ini.

Salah satu agenda kepemudaan yang diusung dalam dua kegiatan peringatan tersebut adalah literasi bagi pemuda. Pada saat peringatan hari sumpah pemuda tersebut, Hipmab Kolaka turut menggekar lapak baca. Hal ini dimaksudkan agar pemuda yang datang pada saat itu busa tertarik melihat berbagai jenis buku yang dihampar di atas meja.

Selain lapak baca pada peringatan hari sumpah pemuda, semangat untuk mengusung literasi pemuda ini kembali diperkenalkan lewat hari pahlawan. Dalam pidato dan orasi dihari pahlawan tersebut, Hipmab Kolaka memperkenalkan para pendiri bangsa dan tokoh pahlawan yang gemar membaca seperti Ir Soekarno, Moh Hatta, Tan malaka maupun Ki hadjar Dewantara. Dari tradisi membaca mereka yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, diharapkan mampu memberi motivasi bagi pemuda untuk mengikuti salah satu jejak para pendiri bangsanya: membaca.

Bukan sekedar kegiatan yang menyisakan sampah lalu menyusahkan orang lain untuk membersihkannya seperti baleho di pinggir jalan itu, dua agenda kegiatan tersebut –membangun jiwa nasionalisme dan semangat kepemudaan: literasi pemuda– yang disampaikan dalam peringatan hari sumpah pemuda dan hari pahlawan, Hipmab berharap dapat turut andil dalam pembangunan daerah sesuai kapasitasnya sebagai organisasi mahasiswa di daerah Bombana.

12 November 2020

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai